Mudik Lebaran 2009 Absen Dulu Ya…
Lebaran kali ini ada yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Bagaimana tidak, semenjak saya merantau dari daerah asal saya 19 tahun yang lalu baru kali ini absen mudik. Absen berduyun-duyun bersama sekitar 27,25 juta* orang yang ikut meramaikan tradisi mudik tahun ini. Artinya setelah 19 kali merasakan nikmat dan indahnya mengikuti ritual mudik, tahun ini hanya bisa merasakan nikmat dan indahnya berlebaran di tanah rantau yang sudah menjadi tanah kelahiran kedua.
Masih hangat dalam ingatan saya atmosfer saat-saat mudik pertama kali sampai dengan yang terakhir. Suasana hati benar-benar mengagumkan, senang, bahagia, rindu, kangen pada orangtua dan semua yang patut mendapatkan, bercampur baur dengan semangat juang selama perjalanan mudik. Benar-benar seru! Saya belum bisa mengungkapkannya dengan kalimat yang tepat.
Menurut saya perjalanan mudik sendiri adalah kegiatan yang menyenangkan bahkan bisa menjadi suatu arena untuk melatih kesabaran, ajang untuk menguji seberapa kuat kontrol diri kita. Mungkin para mudiker juga setuju dengan pernyataan saya tersebut. Memang sih terkadang lepas kontrol juga walaupun sebatas mengumpat dalam hati tapi saya pikir itu cukup untuk membatalkan puasa yang sudah kita niati dan mulai dari subuh. Tapi di situlah seninya….
Nah, kalau saya bagi selama 19 tahun pengalaman mudik maka ada tiga penggalan waktu.
Pertama. Periode 5 tahun pertama atau masa-masa menimba ilmu. Pada periode ini saya tak pernah absen mudik, selain kewajiban untuk sungkem kepada kedua orang tua juga karena sebagai anak kuliahan tentunya hanya bisa pulang di momen-momen tertentu seperti Lebaran dan liburan semester, so selama satu tahun paling sedikit 3 kali bisa ketemu dengan orang tua. Perjalan mudik pada periode ini paling seru. Semuanya dilaju dengan kereta api. Mulai dari berdiri berhimpitan full body contact dengan satu kaki, menemani masinis di kabin masinis sampai duduk dengan nyaman di kelas bisnis pernah saya alami. Wah pokoke seru….seru banget….!
Kedua. Sudah menikah tapi masih menggunakan kereta api sebagai transportasi mudik. Biasanya anak dan istri saya ekspor dulu seminggu sebelum hari H dengan alasan keamanan dan kenyamanan. Baru satu hari menjelang hari H saya melenggang sendiri.
Ketiga. Mudik menggunakan kendaraan sendiri, wah rasanya lumayan enak. Saya punya kebebsan waktu untuk menentukan kapan take off dan kapan harus landing. Kalau dihtung-hitung hanya sekali kejebak macet hampir 12 jam di perjalanan, tapi sisanya alhamdulillah nyaris tanpa hambatan.
Apakah lebaran kali ini anda termasuk golongan yang absen mudik juga?
*Data Departemen Perhubungan
Popularity: 35% [?]